Baru-baru ini, media sosial dihebohkan tentang meteor yang jatuh di langit Pantai Pagimana, Sulawesi Tengah. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mengatakan bahwa kilatan cahaya tersebut kemungkinan berasal dari meteor yang terbakar di atmosfer.
Peristiwa yang disebut boloid ini merupakan tabrakan antara benda langit dan atmosfer dengan kecepatan yang relatif rendah. Benda yang jatuh itu adalah pecahan meteor yang pernah terkoyak di masa lalu.
Terkait kejadian tersebut, Peneliti LAPAN Rhorom Priyatikanto menjelaskan bahwa banyak meteor yang masuk ke atmosfer bumi, namun sebagian besar tidak teramati karena jatuh di laut atau berada jauh dari daerah pemukiman.
“Rata-rata meteor berukuran 50 cm masuk ke Bumi setiap dua kali seminggu. Sebuah meteor besar bisa mencapai atmosfer yang lebih rendah, kemudian mengalami ledakan diikuti suaranya setelah ada kilatan cahaya,” ujarnya, dikutip dari situs resmi LAPAN, Kamis, 18 Maret 2021.
Meteor di langit Pantai Pagimana bukanlah hasil hujan meteor, melainkan meteor sporadis yang tidak memiliki pola kenampakan tertentu, baik waktu maupun lokasinya.
Rhorom percaya bahwa fenomena tersebut tidak menimbulkan risiko bahaya karena ukurannya yang kecil, berpotensi terbakar di atmosfer. Namun LAPAN akan menerima dengan tangan terbuka jika ada entitas atau lembaga yang melaporkan dan menyerahkan benda jatuh.
Sebelumnya melalui sebuah postingan di Instagram, @daryonobmkg mengatakan sensor seismik BMKG di Luwuk tidak merekam adanya anomali gelombang seismik, ketika masyarakat Pagimana, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, melaporkan adanya lintasan meteor.
Situs Bolatangkas Terpercaya | Agen Tangkasnet Online | Agen Bolatangkas Terpercaya


0 Komentar