Sidebar Ads

WARTAWAN ASAL MADURA INI PENCETUS BAHASA INDONESIA



Saat 92 Tahun lalu, di mana Bahasa Indonesia telah lahir. Tanpa adanya pemuda Madura yang satu ini, mungkin Bahasa Indonesia tidak akan menjadi bahasa persatuan negara ini.

"Bahasa Indonesia lahir pada tanggal 28 Oktober 1928," demikian dituliskan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa di situs resminya, Rabu (28/10/2020).

28 Oktober 1928 merupakan momentum Kongres Pemuda II. Di situlah Sumpah Pemuda lahir memuat poin ketiga, "Menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia."

Mufakat tentang bahasa tersebut tidak muncul melalui diskusi yang adem ayem. Untuk poin bahasa persatuan itu telah dibahas semenjak Kongres Pemuda I yang telah dihelat pada tahun 1926. Pada Kongres Pemuda itu, terdapat satu sosok penting yang bernama Mohammad Tabrani Soerjowitjitro, atau sering disebut sebagai M Tabrani.

Tabrani, aktivis Jong Java, yang merupakan Ketua Panitia Kongres Pemuda I. Dia juga orang yang telah maju ke kantor polisi untuk melobi izin yang bertujuan menyelenggarakan Kongres Pemuda 30 April-2 Mei 1926.



Tabrani vs Yamin

Dijelaskan oleh Maryanto dalam tulisan 'Sang Penggagas Bahasa Persatuan Indonesia' yang dimuat di situs Badan Bahasa Kemdikbud, Tabrani lahir di Pamekasan, Madura, pada tanggal 10 Oktober 1904. Dia juga merupakan seorang wartawan harian Hindia Baru. Sebelum Kongres Pemuda I digelar, Tabrani telah menulis tentang Bahasa Indonesia.

Dalam kolom 'Kepentingan' di harian Hindia Baru terbitan tanggal 10 Januari 1926, dia menerbitkan tulisan bertajuk 'Kasihan'. Dan untuk isinya merupakan gagasan awal menggunakan nama 'Bahasa Indonesia'. Tabrani mengatakan bahwa Bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan di tengah keberagaman bahasa daerah orang Indie (Hindia Belanda).

Akan tetapi ketika itu, bahasa seperti yang hingga kini kita pakai disebut sebagai bahasa Melayu saja. Istilah 'Bahasa Indonesia' belum terlalu lazim. Akan tetapi bukan berarti Bahasa Indonesia tidak bisa ada dari ketiadaan.

"Bangsa Indonesia belum ada. Terbitkanlah bangsa Indonesia itu! Bahasa Indonesia belum ada. Terbitkanlah bahasa Indonesia itu!" demikian tulis Tabrani di koran Hindia Baru, 11 Februari 1926.

Mohammad Yamin yang merupakan aktivis Jong Sumatranen Bond, menyanggah akan gagasan Tabrani tentang Bahasa Indonesia.



"Bahasa Indonesia tidak ada; Tabrani tukang ngelamun," demikian kata M Yamin yang tercatat dalam Otobiografi Tabrani sendiri.

Saat itu Yamin sempat naik pitam ketika Tabrani menolak usulannya untuk menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. Usulan Yamin itu termuat dalam putusan Kongres Pemuda I tahun 1926.

Begini bunyi putusan Kongres Pemuda I, dikutip dari buku B Sularto 'Dari Kongres Pemuda Indonesia Pertama ke Sumpah Pemuda':

Pertama: Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kedoea: Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Ketiga: Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Melajoe.

Cermatilah pada poin ketiga, bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan. Hal itu merupakan ide dari M Yamin yang didukung oleh Djamaludin selaku Sekretaris Panitia Kongres Pemuda I. Persis poin ketiga itulah Tabrani sangat tidak setuju terhadap Yamin.

"Alasanmu, Yamin, betul dan kuat. Maklum lebih paham tentang bahasa daripada saya. Namun, saya tetap pada pendirian. Nama bahasa persatuan hendaknya bukan bahasa Melayu, tetapi bahasa Indonesia. Kalau belum ada harus dilahirkan melalui Kongres Pemuda Indonesia Pertama ini," ucap Tabrani.

Tabrani berpendapat, jika bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan maka bahasa Melayu bakal terkesan sebagai bahasa imperialisme terhadap bahasa daerah yang lainnya di Indonesia.

Disebabkan Tabrani tidak setuju, maka untuk putusan Kongres Pemuda I itu tidak menjadi putusan final. Keputusan terakhir ditunda sampai Kongres Pemuda II pada 1928. Singkat cerita, Yamin berlapang dada dengan argumen Tabrani. Poin ketiga dari Kongres Pemuda I diubah pada putusan Kongres Pemuda II, untuk bunyinya menjadi sebagai berikut:

Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Riwayat singkat Tabrani

Nama lengkap: Mohammad Tabrani Soerjowitjitro

Tempat tanggal lahir: Pamekasan Madura, 10 Oktober 1904

Wafat: 12 Januari 1984

Makam: TPU Tanah Kusir, Jakarta

Pendidikan:

- HIS, Mulo, AMS, dan OSVIA (Sekolah PNS pribumi)

- Pernah menuntut ilmu di Universitas Berlin dan Universitas Köln

- Pendidikan stenografi bahasa Jerman di Den Haag Belanda, selesai 1929

Pekerjaan:

- 1925: Jurnalis Hindia Baru (Hindia Baroe) Jakarta, sampai menjadi ketua redaksi

- 1930-1932: Pemimpin majalah mingguan Revue Politik

- 1932: Direktur dan kepala redaksi harian Pemandangan dan mingguan Pembangoenan Jakarta.

- 1932-1936: Pemimpin 'Sekolah Kita' di Pamekasan Madura

- 1940: Bekerja di Dinas Penerangan Pemerintah

- 1942: anggota pusat redaksi harian Tjahaja

Pergerakan:

- Aktivis Jong Java

- 1926: Ketua Panitia Kongres Pemuda I

- 1935: Ketua Partai Rakjat Indonesia (PRI) Jakarta




Posting Komentar

0 Komentar